Twitter | Search | |
Jarar Siahaan
wartawan sejak 1994; bukan jongos politikus; “belum sukses menjadi ateis”; bukan kawanmu, bukan lawanmu; pernah menikah •
29
Tweets
33
Following
9,630
Followers
Tweets
Jarar Siahaan May 13
Kok tahu?
Reply Retweet Like
Jarar Siahaan May 13
Replying to @primataliar
Lebih bagus, lebih masuk akal
Reply Retweet Like
Jarar Siahaan May 10
Dari dulu di aku tidak suka berbahasa baku. Aku sering menulis kata yg disingkat & kalimat yg tidak diakhiri dng titik, seperti ini Yg penting diperhatikan dlm berbahasa di medsos: jangan sampai makna kalimat berbeda dng yg dimaksudkan (lihat contoh twit itu)
Reply Retweet Like
Jarar Siahaan May 8
Replying to @ivanlanin
Bisa jadi mereka pun takbisa melihat selisih makna “meneladan” dan “meneladani”
Reply Retweet Like
Jarar Siahaan May 7
Replying to @nadilankhaliza
Bukan soal “SMA”-nya, melainkan “hal logika akan kalah dengan…”
Reply Retweet Like
Jarar Siahaan May 6
Jangan lekas-lekas menilai, apalagi menyimpulkan, suatu hal yang tidak kaupahami
Reply Retweet Like
Jarar Siahaan May 5
Replying to @zoelfick
Gambar: salah satu komen netizen yang dikutip Detik tanpa sensor. Redakturnya dungu. Detik (apalagi Tribunnews) takpaham jurnalisme: DILARANG mengutip narsum anonim & pseudonim JIKA ucapannya berupa opini/kecaman terhadap orang lain yang identitasnya jelas ditulis dalam berita.
Reply Retweet Like
Jarar Siahaan May 2
Replying to @andialgazaly
Perhatikan beritanya, karya jurnalistiknya: tidak berat sebelah. Tapi sebenarnya yg pokok ialah sikap independen wartawan, bukan sekadar netral
Reply Retweet Like
Jarar Siahaan May 2
Difitnah, bawa ke jalur hukum. Tapi itu bikin repot. Diamkan saja
Reply Retweet Like
Jarar Siahaan Apr 30
Replying to @MarcellSiahaan
Horas, Bang
Reply Retweet Like
Jarar Siahaan Apr 28
Penggunaan koma itu sudah tepat
Reply Retweet Like
Jarar Siahaan Apr 26
Replying to @danalingga
Tidak ada kusebut bahwa hasilnya tidak bisa dipertanggungjawabkan, kan, Lae? 😀
Reply Retweet Like
Jarar Siahaan Apr 22
Replying to @Amanjikefron
Judul berita mesti menarik dan, jika bisa, “provokatif”. Judul VIVA itu lebih baik, dan sesuai juga dengan isi beritanya
Reply Retweet Like
Jarar Siahaan Apr 22
Replying to @febry_hasian
Di Balige
Reply Retweet Like
Jarar Siahaan Apr 20
Replying to @rhomadhino
:)
Reply Retweet Like
Jarar Siahaan Apr 20
Replying to @Fn_Dinii
Jihad dalam jurnalisme, iya
Reply Retweet Like
Jarar Siahaan Apr 20
Replying to @pamungkas_abd
Menyepi
Reply Retweet Like
Jarar Siahaan 11 Jul 18
Replying to @larissahuda
Aku sudah membaca twit-twit balasanmu di sini. Iya, aku paham, makanya kusebut “redaksimu”. Baiklah, itu berarti percuma aku melayani interviu dan membeberkannya. Terima kasih engkau sudah menawariku wawancara meski kutolak. Selamat meniti karier, Larissa yang baik.
Reply Retweet Like
Jarar Siahaan 3 Jul 18
Bukan. Perhatikan koteks sebelumnya: “…meremehkan nyawa manusia.” Lagi pula, penggunaan {serba-} bukan untuk menyatakan “satu” (kapal), melainkan “semuanya” (para korban).
Reply Retweet Like