Twitter | Search | |
Jarar Siahaan
wartawan sejak 1994; bukan jongos politikus; “belum sukses jadi ateis”; bukan kawanmu, bukan lawanmu; pernah menikah •
41
Tweets
33
Following
10,012
Followers
Tweets
Jarar Siahaan Sep 6
Laki-laki disebut kuat/teguh bukan karena dia tidak merasa lemah/sakit/sedih ketika jatuh, kalah, gagal, dsb. Laki-laki disebut kuat karena dia tidak mengeluhkan kesusahan hidupnya atau beban pikirannya kepada siapa pun, bahkan tidak kepada kekasih atau istrinya
Reply Retweet Like
Jarar Siahaan Aug 23
LIPUTAN6 Yang berkurban: empat sapi dan satu kambing. Yang menjadi kurban: Ayu. - Budi korban aktivis pemeras. (korban: Budi) - Kambing itu kurban Budi untuk Lebaran Haji. (kurban: kambing itu) KOREKSI Ayu Ting Ting MENGURBANKAN [Berkurban] Empat Ekor Sapi dan Satu Kambing…
Reply Retweet Like
Jarar Siahaan Aug 9
Hanya sebagian kecil wartawan Indonesia yang memilih profesinya itu karena mencintai jurnalisme. Sebagian besar karena mau dapat duit (suap, proyek) dengan modal gertak sambal; agar aman jika berurusan dengan aparat; demi kelancaran bisnis/politik; atau daripada jadi penganggur
Reply Retweet Like
Jarar Siahaan Aug 8
Seandainya KPK menyadap ponsel wartawan di seluruh Indonesia, terlebih-lebih redaktur, pemimpin redaksi, dan pemilik TV, koran, dan media siber, publik akan kaget: banyak orang pers yang bersekongkol dengan politikus dan pejabat korup untuk “meluruskan” berita miring.
Reply Retweet Like
Jarar Siahaan Aug 6
Adverbia “bisa jadi” dan verba “jadi” berbeda artinya. Subjek “hasil baik pertemuan…” dan “pertemuan…” pun berbeda. CERMATI: “Hasil rapat itu diserahkan…” tidak searti dengan “Rapat itu diserahkan…” Dari dulu kukatakan: banyak orang pers yang bodoh berbahasa Indonesia.
Reply Retweet Like
Jarar Siahaan Jul 30
Replying to @ja_rar
Albert Einstein memesan New Yorker 31 Agustus 1946 seribu eksemplar. Isinya cuma 1 artikel: “Hiroshima”, berita naratif 30 ribu kata, ditulis John Hersey dengan gaya novel, kisah 6 warga yg selamat dari bom atom di Jepang. Ada buku terjemahan “Hiroshima”
Reply Retweet Like
Jarar Siahaan Jul 30
Mutu jurnalisme—bukan sekadar “mutu berita”—majalah Tempo kalah jauh dibandingkan dengan mutu jurnalisme majalah mingguan The New Yorker. Kalau ada versi bahasa Indonesia New Yorker, aku mau berlangganan majalah narasi mahapanjang ini
Reply Retweet Like
Jarar Siahaan Jul 23
Kaum remaja atau pemuda sebaiknya, bahkan perlu, membaca novel picisan atau puisi cinta melodramatis setidak-tidaknya untuk mengayakan kosakata. Jangan melulu membaca buku pelajaran, nanti pikiranmu kerdil, sulit berkembang
Reply Retweet Like
Jarar Siahaan retweeted
Tata Bahasa Jul 11
Guru: Apakah kamu sarapan pagi tadi? Murid: Saya bukan makanan, Pak. Kata kerja yang benar “menyarap”. Kelas kata “sarapan” adalah nomina, seperti juga “buku” dan “rokok”. Guru: Ah, sama saja. Murid: Tidak mungkin saya katakan, “Guruku rokok.” Verbanya “merokok”, kan, Pak?
Reply Retweet Like
Jarar Siahaan retweeted
Tata Bahasa Jul 14
Bagi orang yang tidak pernah berpacaran dilarang berpetuah tentang percintaan. Kalimat di atas salah karena tidak punya subjek. Unsur subjek takada karena terdapat preposisi “bagi”. Orang yang tidak tahu membetulkan kalimat pertama itu silakan berhijrah ke Instagram.
Reply Retweet Like
Jarar Siahaan retweeted
Jarar Siahaan Jul 17
Replying to @spa_si
1. Orang bisa tanpa sengaja memfitnah karena pengetahuan tata bahasanya minim. 2. Tokoh masyarakat agar hati-hati menulis di medsos. 3. Warganet jangan pakai standar ganda (ingat kasus kalimat Ahok). 4. Ayo belajar dan cintai bahasa Indonesia!
Reply Retweet Like
Jarar Siahaan Jul 17
Replying to @spa_si
1. Orang bisa tanpa sengaja memfitnah karena pengetahuan tata bahasanya minim. 2. Tokoh masyarakat agar hati-hati menulis di medsos. 3. Warganet jangan pakai standar ganda (ingat kasus kalimat Ahok). 4. Ayo belajar dan cintai bahasa Indonesia!
Reply Retweet Like
Jarar Siahaan Jul 15
TADI - pagi tadi, bukan tadi pagi - siang tadi, bukan tadi siang BESOK - besok pagi, bukan pagi besok - besok malam, bukan malam besok KEMARIN - kemarin pagi, bukan pagi kemarin - kemarin sore, bukan sore kemarin HUKUM DM <diterangkan> + <menerangkan> Retwit! *bukan ritwit
Reply Retweet Like
Jarar Siahaan Jul 12
Selaku wartawan dan bahasawan radikal aku beroleh ilmu dari praktik jurnalisme: kalimat harus efisien dan efektif, bukan sekadar baik dan benar. Untuk itulah orang perlu mengasah keterampilan gaya bahasa dan retorika.
Reply Retweet Like
Jarar Siahaan Jul 11
Replying to @spa_si
Jangan pakai perasaan untuk mengartikan kalimat orang. Pahami - makna tiap kata - makna gramatikal antarkata - pengaruh tanda baca terhadap makna gramatikal - koteks (kalimat sebelum/sesudahnya) - konteks - gaya bahasa Itu saja dulu. Ikuti twit khusus tata bahasa di
Reply Retweet Like
Jarar Siahaan Jul 11
Replying to @larissahuda
Aku sudah membaca twit-twit balasanmu di sini. Iya, aku paham, makanya kusebut “redaksimu”. Baiklah, itu berarti percuma aku melayani interviu dan membeberkannya. Terima kasih engkau sudah menawariku wawancara meski kutolak. Selamat meniti karier, Larissa yang baik.
Reply Retweet Like
Jarar Siahaan Jul 10
Replying to @ja_rar
Larissa yang baik, sekiranya twitku di atas akan kaujawab, balaslah lewat twit umum seperti ini, jangan lewat pesan langsung. Begitu pun, tidak dijawab juga tidak apa-apa. Terima kasih ya, dan selamat bekerja. Tabik, BAHASAWAN RADIKAL
Reply Retweet Like
Jarar Siahaan Jul 10
Replying to @ja_rar
Sebelum ajuanmu kujawab, apakah redaksimu bisa memastikan kedua hal berikut? 1. SEMUA kritikku, termasuk analisis gramatikal, terhadap pers dan ahli bahasa itu diterbitkan tanpa eufemisme. 2. Nama media dan munsyi yang kukritik ditulis dengan jelas, TIDAK DISAMARKAN.
Reply Retweet Like
Jarar Siahaan Jul 10
Replying to @ja_rar
Seandainya sudi diwawancarai, aku akan membeberkan kebodohan mereka berbahasa: - para ahli bahasa dalam rubrik “Bahasa!” - GM dalam “Caping” - Dee dalam novelnya - Detikcom, Tribunnews… - dll. Oh, Tempo juga, yang serampangan menggunakan tanda pisah.
Reply Retweet Like