Twitter | Search | |
Eliza VitriHandayani
Writing about rebellious young people in Indonesia. Living with many languages and cultures. | Novel: From Now On Everything Will Be Different
1,053
Tweets
1,724
Following
1,329
Followers
Tweets
Eliza VitriHandayani Jan 17
Itu kajian di mana, mbak? Kalau di kita tidak boleh sampai begitu, peserta2 lain juga bervariasi pakaian, gender, dan identitasnya.
Reply Retweet Like
Eliza VitriHandayani retweeted
Magdalene Dec 21
Kami berbincang dengan akademisi yg telah lama mendalami kesejarahan gerakan perempuan di Indonesia, Saskia Wieringa, tentang sejarah dan keterlibatan perempuan di politik. Yuk dengarkan podcast "Magdalene's Mind" di aplikasi KBR Prime, Spotify, Anchor, SoundCloud, dan Castbox 🌺
Reply Retweet Like
Eliza VitriHandayani retweeted
Devi Asmarani Dec 19
Gerakan perempuan di Ind sempat sangat kuat, progresif pada masa Gerwani, namun rezim Orba menghabisi organisasi ini, melenyapkan jejaknya dari sejarah pergerakan, melakukan kejahatan kemanusiaan kepada anggota2nya. Simak Saskia Wieringa di
Reply Retweet Like
Eliza VitriHandayani retweeted
Molly Crabapple Dec 17
Many of the best things I created this year paid me far below minimum wage, so if you like my work, you can support me making more of it by buying a print from my shop
Reply Retweet Like
Eliza VitriHandayani Dec 21
What a great year, Molly! Don’t forget the series of US and Indonesian women who’ve had abortion, which they also annotated. Also for . We were so happy to have you.
Reply Retweet Like
Eliza VitriHandayani Dec 20
Replying to @elizavitri
Alangkah baiknya jika perbedaan dalam perspektif & praktek agama tidak disikapi dgn satu pihak dianggap lebih benar dan pihak lain harus selalu diam/mengalah. Semoga dengan begitu kita bisa lebih jujur pada diri sendiri dan keluarga, dan hidup dengan lebih berdaya dan bahagia.
Reply Retweet Like
Eliza VitriHandayani Dec 20
Replying to @elizavitri
Orang-orang ini, seperti tokoh Rizky dalam novel saya (, bisa jadi merasa tidak dapat memiliki hubungan sejati dengan keluarga, merasa rendah diri, dan mengalami banyak masalah psikologis dan masalah dalam hubungan sosial.
Reply Retweet Like
Eliza VitriHandayani Dec 20
Replying to @elizavitri
Ketika yang diperbolehkan bersuara hanya satu pihak dan pihak yang lain (dalam hal ini yang tidak berjilbab, tapi ini hanya contoh) ditekan, maka dalam keluarga akan tercipta orang-orang yang merasa tidak bisa jujur dan menjadi diri sendiri di antara keluarga sendiri.
Reply Retweet Like
Eliza VitriHandayani Dec 20
Replying to @elizavitri
Tak heran juga kenapa reaksi negatif terhadap tulisan saya itu sebagian besar tentang jilbab. Padahal inti tulisan itu bukan tentang hijab, tapi bagaimana perbedaan perspektif agama di keluarga menciptakan ketimpangan dalam kebebasan bersuara yang lalu berakibat perpecahan.
Reply Retweet Like
Eliza VitriHandayani Dec 20
Replying to @elizavitri
Menurut saya adalah tantangan bagi kita dapatkah memilih interpretasi yang menghormati sesama manusia daripada yang mendiskriminasi/mengekang sesama manusia.
Reply Retweet Like
Eliza VitriHandayani Dec 20
Kepada semua yang merasa begitu yakin hukumnya sudah jelas begini/begitu, periksa lagi interpretasi itu datang dari mana, siapa yang diuntungkan/dirugikan dengan interpretasi itu. Yang jelas bagi anda belum tentu jelas bagi yang lain.
Reply Retweet Like
Eliza VitriHandayani Dec 20
1)Di banyak perempuan bercerita mengalami pelecehan seksual meskipun berhijab panjang. 2)Kita dapat berperilaku baik apa pun pakaian kita. 3)Makan sayuran, baca buku, bercinta pun banyak manfaatnya ;), tapi kita tak bisa memaksa orang lain untuk melakukannya, kan?
Reply Retweet Like
Eliza VitriHandayani Dec 20
Saya tidak pernah menggeneralisasi. Saya punya pengalaman ketika teman memberi masukan secara baik2, tapi banyak juga pengalaman ‘diingatkan’ secara tidak baik. Bukan berarti kita tidak bisa menyuarakan pengalaman yg tidak baik, secara fair tentunya.
Reply Retweet Like
Eliza VitriHandayani Dec 20
Thank you, Kak Devi. And thank you for providing platform and space for voices like mine.
Reply Retweet Like
Eliza VitriHandayani Dec 20
Terima kasih.
Reply Retweet Like
Eliza VitriHandayani Dec 20
Sama-sama, semoga Mbak juga ya. Banyak lho yang berperspektif bahwa perilaku dan ibadah itu lebih penting daripada pakaian. Nilai perempuan tidak dilihat hanya dari pakaian.
Reply Retweet Like
Eliza VitriHandayani Dec 20
Kalau benar ratu, maka ratu itu kan pemimpin, dia berkuasa, berdaulat, dia dapat mengatur sendiri dirinya dan hidupnya. Dia dapat jadi pemimpin bagi komunitasnya. Namanya juga ratu.
Reply Retweet Like
Eliza VitriHandayani retweeted
Ajar Press Dec 19
Inpages in Saigon is sadly closing its doors (for now) so all the AJAR books need to find a new home. Come pick one up as well as some of the incredible other literature and artwork at a great discount from now until the end of the year.
Reply Retweet Like
Eliza VitriHandayani Dec 16
Replying to @awankdarmawan_
Enggak bisa dong mengajukan argumen tapi kemudian bilang abaikan saja soal permennya, soal hashtagnya. Hal2 itu menunjukkan perspektif dan kepentingan pembuat argumen. Jangan dianggap tidak bermuatan. Mulia bagi saya berdaulat atas diri dan hidup sendiri.
Reply Retweet Like
Eliza VitriHandayani Dec 16
Replying to @inda_SZ @the_magdalene
Turut prihatin, Mbak. Mungkin berkenan ikut kelompok belajar kami? Kalau belum, coba baca tentang kami di sini:
Reply Retweet Like