Twitter | Search | |
Eliza VitriHandayani
Writing about rebellious young people in Indonesia. Living with many languages and cultures. | Novel: From Now On Everything Will Be Different
1,038
Tweets
1,724
Following
1,306
Followers
Tweets
Eliza VitriHandayani 8h
Replying to @awankd19
Enggak bisa dong mengajukan argumen tapi kemudian bilang abaikan saja soal permennya, soal hashtagnya. Hal2 itu menunjukkan perspektif dan kepentingan pembuat argumen. Jangan dianggap tidak bermuatan. Mulia bagi saya berdaulat atas diri dan hidup sendiri.
Reply Retweet Like
Eliza VitriHandayani 8h
Replying to @inda_SZ @the_magdalene
Turut prihatin, Mbak. Mungkin berkenan ikut kelompok belajar kami? Kalau belum, coba baca tentang kami di sini:
Reply Retweet Like
Eliza VitriHandayani 9h
Replying to @ariascinamav
Aku pun butuh waktu bertahun-tahun untuk bisa angkat bicara. Love and self-acceptance membuatku dapat menemukan suaraku.
Reply Retweet Like
Eliza VitriHandayani 9h
Semua penafsiran kan mulai dari nalar personal dan bisa jadi subjektif, lalu ada yang diinstitusikan. Tapi bukan berarti tidak bisa dihadirkan interpretasi tandingan. Dan bukan cuma agama yang bisa memberi batasan atau makna, ada hukum, keluarga, cinta, persahabatan.
Reply Retweet Like
Eliza VitriHandayani 9h
Saya? Alhamdullilah, tahun ini sudah jauh berkurang.
Reply Retweet Like
Eliza VitriHandayani 9h
Replying to @awankd19 @inda_SZ
Hmm kayaknya dari perspektifmu dimuliakan itu sama dengan dilindungi dan dijaga, tapi mungkin bagi perempuan menjadi mulia itu berarti bisa menjaga, mengatur hidup, dan bertanggung jawab atas diri sendiri. Apakah mulia kalau hidup hanya bisa menuruti pandangan orang lain?
Reply Retweet Like
Eliza VitriHandayani 9h
Hanya saja, Mbak, kadang aku merasa yang ‘mengingatkan’ itu merasa mereka lebih/paling benar, jadi aku risih mendengarnya. Apalagi kalau kata2nya cenderung menakuti/membuat merasa bersalah/tidak nyaman. Terus kalau kita memprotes, dianggap membesar2kan. Kalau kata2nya baik2 gpp.
Reply Retweet Like
Eliza VitriHandayani 9h
Replying to @_BocahKentang
Ulama itu juga manusia kan? Juga bisa salah, juga pakai nalar dalam menafsir, juga punya kepentingan sendiri. Banyak juga yang memakai perspektif patriarkis. Apa salahnya kita juga belajar, dengan kritis, dan memilih interpretasi yang memberdayakan dan membebaskan?
Reply Retweet Like
Eliza VitriHandayani Dec 15
Kalau di Jakarta dan bisa hadir, lebih baik hadir saja, Mbak. Daftarnya lewat email ya. Terima kasih.
Reply Retweet Like
Eliza VitriHandayani Dec 15
Menurut saya adalah tantangan bagi kita apakah akan memilih interpretasi ‘ketentuan’ yang menghormati semua manusia atau yang mendiskriminasi antara sesama manusia. Sebelum mengingatkan saya coba pikir apakah saya masih merasa lebih/paling benar.
Reply Retweet Like
Eliza VitriHandayani Dec 15
Alquran dan hadits itu ditafsir dan diinterpretasikan oleh manusia juga, dan tiap manusia punya pemikiran berbeda. Saya akan terus belajar. Selain berguru, saya juga akan berpikir kritis dan menggunakan rasa kemanusiaan.
Reply Retweet Like
Eliza VitriHandayani Dec 15
Jelas bagi siapa ya?
Reply Retweet Like
Eliza VitriHandayani Dec 15
Terima kasih. Salam kenal kembali.
Reply Retweet Like
Eliza VitriHandayani Dec 15
Aku lihat yang memberi dukungan banyak yang tampaknya perempuan, yang tidak mendukung banyakan yang tampaknya laki-laki. Why am I not surprised.
Reply Retweet Like
Eliza VitriHandayani Dec 15
Replying to @sewibutahun
Hmmm, jelas bagi siapa ya? Bagi orang lain yang jelas itu beda.
Reply Retweet Like
Eliza VitriHandayani Dec 15
Terima kasih udah bagi pengalaman. Tuh kan, ‘one rule fits all’ itu tidak memperhitungkan kebutuhan orang yang berbeda-beda, seperti kebutuhan dirimu.
Reply Retweet Like
Eliza VitriHandayani Dec 15
Tapi tidak semua perempuan mau jadi ratu. Dan kalau ratu, bukankah dia bisa mengatur diri sendiri? Dan perempuan tidak cuma disentuh,tapi juga menyentuh. Aku bukan bilang berjilbab itu terkekang,tapi tiap perempuan bisa memilih sendiri-cara berpakaian, hidup, dan mengimani agama.
Reply Retweet Like
Eliza VitriHandayani Dec 15
Dulu kami juga diajari begitu oleh mama. Aku enggak mempermasalahkan mereka sekarang berhijab, tapi aku enggak rela keponakan2 menganggapku perempuan tidak benar karena tidak berhijab.
Reply Retweet Like
Eliza VitriHandayani Dec 15
Replying to @awankd19
Perspektif itu tidak membiarkan perempuan mendefinisikan sendiri apa artinya menjadi mulia & terhormat, menyamakan perempuan dgn permen, mengatakan nilai perempuan dilihat dari apakah laki2 suka kepadanya. Tentu saja Tidak Setuju. Dan hashtagnya itu lho, bermuatan politik abis.🤮
Reply Retweet Like
Eliza VitriHandayani Dec 15
Replying to @DillaHbrn
Terima kasih, Mbak. Salam kenal kembali ya.
Reply Retweet Like